INALUM Gelar InJournal Chapter 1, Ajak Jurnalis Sumut Angkat Isu
Tingkatkan Kepedulian Isu Lingkungan, Kemenag Siap Libatkan Kalangan Tokoh di Tanah Air
LKasatnews.id, Semarang – Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI HR Muhammad Syafi’i menjadi keynote speaker atau pembicara di acara “International Conference on Religion and Environment” atau Konferensi Internasional Agama dan Lingkungan di Kampus UIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah, Rabu (11/12/2024).
Pada pertemuan itu hadir Prof. Dr. Nizar, M.Ag. (Rektor UIN Walisongo Semarang), Prof. Dr. Frans Wijsen (Redboud University, the Netherlands), .Prof. Sunshine Dulnuan (St. Andrew Theological Seminary, Manila), Jonathan D. Smith, Ph.D (University of Leeds, UK), Farid F. Saenong, Ph.D (Universitas Islam Internasional Indonesia / UIII) / Masjid Istiqlal) dan Prof. Muhyar Fanani (Moderator)
Wamenag RI, HR Muhammad Syafi’i akrab disapa Romo pada pemaparannya menyatakan bahwa Kementerian Agama RI senantiasa siap berperan dalam meningkatkan kepedulian terhadap isu-isu lingkungan. Yakni dengan melibatkan tokoh agama, ormas keagamaan, lembaga pendidikan keagamaan, yang jumlahnya ribuan dan tersebar di seluruh daerah di Indonesia.
Romo menjelaskan bahwa agama bukan hanya sebagai ajaran yang mengandung nilai-nilai berorientasi pada kehidupan akherat. Tetapi juga menjadi landasan kebijakan bagi isu-isu sosial, termasuk di dalamnya isu lingkungan.
“Kerusakan lingkungan yang semakin tampak luas telah menjadi isu global, menurut sebagian ahli, akarnya dapat ditelusuri dari paradigma pemikiran antroposentrisme. Yaitu akibat manusia sebagai pusat kehidupan di semesta raya,’ kata Romo
Dikatakan, konsekuensi dari paradigma semacam ini mengakibatkan terjadinya strukturalisasi posisi manusia versus alam semesta. Alam dijadikan objek untuk kepentingan manusia. “Dalam Surat Ar-Rum: 41, Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kerusakan di muka bumi adalah nyata akibat perbuatan manusia,”jelas Romo.
Lebih lanjut dijelaskan, sebagai khalifah alam, manusia tidak diperkenankan bersikap semena-mena, yang dapat menyebabkan kerusakan alam. Hal tersebut ditegaskan dalam QS. Al-A’raf: 56, yang melarang manusia untuk berbuat kerusakan.
Romo Syaf’i juga menjelaskan keberpihakan Islam terhadap kelestarian alam dapat ditemui dalam sikap khalifah Umar ibn Khattab. “Islam juga menekankan bukan hanya untuk menjaga lingkungan alam, tetapi juga menjaga kehidupan manusia,”tegasnya.
Kehidupan Manusia
Lebih lanjut Romo Syafi’i juga menyampaikan bahwa menjaga ekosistem alam, bukan hanya tentang tanaman, lahan, dan binatang, namun kehidupan manusia adalah yang utama. “Seringkali konsep “Green Environment” yang diterapkan di Barat, membela alam tetapi terhadap HAM diabaikan. Tanaman dan binatang diperjuangkan haknya, namun terjadi pemusnahan manusia yang bersifat massal, seperti terjadi di Palestina dan di wilayah lain. Islam sangat tegas, bahwa semua makhluk Allah wajib dilindungi, terlebih manusia,”paparnya.
Sedangkan dari segi kebijakan, masyarakat tanah air patut bersyukur karena Pemerintah Indonesia saat ini berkomitmen untuk Swasembada Energi, salah satunya melalui “Energi Terbarukan” (Renewable Energy) yang lebih ramah lingkungan. Produk kelapa sawit, singkong, tidak akan diekspor ke luar negeri, tetapi digunakan sepenuhnya untuk mendukung program energi ramah lingkungan.
“Presiden RI juga berkomitmen dalam menjaga habitat hewan yang dilindungi, di antaranya dengan menghibahkan 20.000 hektar lahan konservasi di Provinsi Aceh kepada World Wildlife Fund (WWF) untuk melestarikan Gajah.
Kementerian Agama RI sebagai lembaga yang memiliki tugas melakukan pembangunan di bidang agama dan pendidikan keagamaan, secara teknis mungkin tidak bersentuhan langsung dengan kegiatan konservasi alam,”jelasnya.
Begitu juga Kementerian Agama RI berkomitmen untuk meningkatkan peran dalam menyiapkan SDM yang lebih peka terhadap masalah lingkungan. Yakni melalui penguatan pada pengajaran nilai-nilai agama yang lebih Pro-Lingkungan, baik di tingkat lembaga pendidikan dasar, menengah, maupun di tingkat pendidikan tinggi.(Jam)