INALUM Gelar InJournal Chapter 1, Ajak Jurnalis Sumut Angkat Isu
Menapak Jejak Bandar Masih, Penulis Asal Batu Bara Menyusuri Kampung Lama Kota Tua Banjarmasin
Penulis: Khairil Aswat_
Banjarmasin, Kalimantan Selatan —
Perjalanan seorang penulis asal Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, ke Kalimantan Selatan bukan sekadar kunjungan geografis, melainkan sebuah ziarah sejarah. Di kota yang kini dikenal sebagai Banjarmasin—yang dahulu bernama Bandar Masih—ia menapaki jejak peradaban yang telah berdenyut sejak tahun 1526, jauh sebelum kata “Indonesia” dilahirkan.

Langkah kaki penulis menyusuri Kampung Lama Kota Tua Banjarmasin, kawasan yang menjadi saksi awal tumbuhnya Kesultanan Banjar dan kehidupan masyarakat sungai. Di sinilah sejarah tidak tersimpan di balik kaca museum, tetapi hidup di lorong-lorong sempit, rumah panggung kayu ulin, serta alur sungai yang terus mengalir membawa cerita lintas generasi.
Arsitektur tempo doeloe yang bertahan, aroma sungai yang khas, dan denyut aktivitas warga menjadi fragmen masa lalu yang masih bernafas. Kampung Lama bukan hanya ruang fisik, tetapi ruang ingatan—tempat sejarah berbicara tanpa suara.
“Saya datang bukan untuk mencari masa lalu, melainkan untuk memahami hari ini. Di kota tua ini, saya belajar bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi—ia berdiam di kesadaran kita, menunggu untuk disentuh,”
Banjarmasin, dengan julukan Kota Seribu Sungai, bukan sekadar metafora romantik. Sungai Martapura dan puluhan anak sungainya telah menjadi urat nadi kehidupan sejak ratusan tahun silam. Sungai bukan hanya jalur transportasi, melainkan ruang sosial, ekonomi, dan budaya.
Ikon paling kuat dari peradaban sungai itu adalah Pasar Terapung Lok Baintan di Kabupaten Banjar. Sejak subuh, deretan jukung kayu saling berpapasan di atas air. Para pedagang—didominasi perempuan yang akrab disapa Acil—menjajakan hasil bumi, ikan sungai, hingga wadai tradisional. Transaksi berlangsung sederhana, nyaris tanpa sekat modernitas, seolah waktu sengaja melambat di atas aliran sungai.

“Sungai-sungai di Banjarmasin mengajarkan saya satu hal: kehidupan tidak selalu tentang melawan arus, tetapi tentang memahami ke mana arus membawa kita,”
Jejak sejarah lainnya membawa penulis ke Kompleks Makam Sultan Suriansyah di Kuin Utara, situs sakral yang menjadi tonggak lahirnya Kesultanan Banjar. Sultan Suriansyah dikenal sebagai pemimpin bijaksana pada masa kejayaan Banjarmasin. Makam dan bekas kediamannya kini menjadi situs cagar budaya, dirawat lintas generasi sebagai simbol kearifan, kepemimpinan, dan spiritualitas masyarakat Banjar.

Tak hanya manusia dan sejarah, Banjarmasin juga menyimpan cerita tentang harmoni alam. Di beberapa kawasan, penulis menyaksikan keberadaan bekantan (Nasalis larvatus)—satwa endemik Kalimantan dengan hidung panjang yang menjadi ikon fauna daerah. Kehadiran bekantan di tengah kota menjadi penanda bahwa alam dan peradaban masih berupaya hidup berdampingan.
Menariknya, dalam narasi perjalanan ini, Banjarmasin kerap dimaknai sebagai ruang persilangan—bahkan kerap dikaitkan secara simbolik dengan titik nol khatulistiwa. Sebuah metafora geografis dan filosofis bahwa kota ini berdiri di simpang sejarah, alam, dan budaya Nusantara.

“Banjarmasin membuat saya mengerti bahwa kota tua bukan tentang bangunan lapuk, melainkan tentang kebijaksanaan yang lahir dari usia. Ia tidak berteriak, tetapi berbicara perlahan kepada mereka yang mau mendengar,”
Perjalanan penulis asal Batu Bara ini bukanlah wisata biasa, melainkan upaya merawat ingatan kolektif—bahwa di balik modernitas, Banjarmasin menyimpan seribu cerita dari Bandar Masih hingga Kota Seribu Sungai, dari sungai hingga manusia yang setia menjaga identitasnya.
Kalimantan Selatan, Februari 2025