PLN Klaim 231 Penyulang Sudah Normal, Namun Tanjung Tiram Masih
Listrik Menyala Tak Merata, Warga Tanjung Tiram Murka: PLN Dinilai Tutup Mata terhadap Penderitaan Rakyat
Kasatmews.id , Batu Bara— Pasca blackout besar yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), aliran listrik di sebagian wilayah Kabupaten Batu Bara akhirnya mulai hidup kembali sekitar pukul 13.30 WIB, Sabtu (23/5). Namun pemulihan yang dilakukan pihak PLN justru memunculkan kemarahan warga karena dinilai tidak adil dan tebang pilih.
Beberapa kawasan seperti Indrapura, Lima Puluh, Talawi, dan sejumlah kecamatan lainnya mulai kembali menikmati pasokan listrik. Ironisnya, di wilayah masih banyak desa yang tetap gelap gulita tanpa kepastian kapan listrik kembali normal.
Warga menyoroti kejanggalan pemulihan listrik tersebut. Pasalnya, Kecamatan Talawi yang berada dalam satu jalur aliran sudah kembali menyala, sementara sejumlah desa di Tanjung Tiram, termasuk Desa Kampung Lalang, masih dibiarkan padam total.
Situasi ini memicu keresahan besar di tengah masyarakat. Bukan hanya aktivitas rumah tangga yang lumpuh, tetapi kebutuhan dasar masyarakat ikut terancam. Krisis air bersih mulai menghantui warga akibat mesin pompa yang tidak dapat digunakan. Aktivitas memasak terganggu, bahan makanan terancam rusak, hingga kegiatan ekonomi masyarakat kecil ikut tersendat.
Yang lebih mengecewakan, saat dikonfirmasi terkait penyebab belum hidupnya listrik di wilayah tersebut, Kepala ULP PLN Tanjung Tiram disebut tidak memberikan penjelasan yang jelas kepada masyarakat. Sikap bungkam ini dinilai semakin memperkeruh keadaan dan memancing kemarahan warga.
Masyarakat mempertanyakan profesionalisme dan keseriusan PLN dalam menangani krisis listrik yang terjadi. Warga menilai PLN seolah menutup mata terhadap penderitaan masyarakat Tanjung Tiram yang hingga kini masih hidup dalam kegelapan.
Desakan keras kini diarahkan kepada Kepala Cabang UPT PLN Siantar agar tidak hanya diam melihat ketimpangan distribusi listrik di Batu Bara. Warga meminta perlakuan yang sama dan adil terhadap seluruh pelanggan tanpa membedakan wilayah tertentu.
“Jangan sampai masyarakat kecil terus jadi korban akibat lambannya penanganan dan buruknya komunikasi PLN. Listrik adalah kebutuhan vital, bukan sekadar fasilitas tambahan,” ujar salah seorang warga dengan nada kecewa.
Apabila kondisi ini terus dibiarkan tanpa kepastian dan transparansi, masyarakat menilai kerugian yang ditanggung warga akan semakin besar, mulai dari kerusakan kebutuhan rumah tangga hingga lumpuhnya aktivitas ekonomi dan pelayanan dasar masyarakat. (Tim/Kasat)