Misteri Dua Korban Tewas di Ruko Indrapura ACC, Dugaan Paparan
Rakyat Harus Berani Menuntut Sikap Legowo Kepada Prabowo
Kasatnews.id , Jakarta – Siapa yang tidak mengenal sosok Prabowo Subianto. Dibalik latar belakang karir prajuritnya yang patut diakui jempol, namun isu pelanggaran HAM berat pun terus menghiasi pencapresannya di berbagai kesempatan. Tak perlu lagi kita mengungkit-ungkit masa lalunya yang demikian, sebab bagaimana pun bangsa kita adalah bangsa pemaaf. Disamping itu banyak pula hal-hal positif yang telah dilakukannya demi memperbaiki bangsa dan negara ini. Sosoknya yang acap kali keras dan tegas menampakkan sisi pengalaman militernya yang terlanjur berkarat. Hadirnya beliau didalam kabinet Jokowi saat ini adalah fakta bahwa dia melandasi sikap politiknya dengan keikhlasan sebagaimana ucapan Gusdur semasa hidupnya. Inilah cerita singkat tentang pribadinya yang nasionalis dan perlu dipertimbangkan oleh masyarakat untuk melihat kehadirannya dalam berbagai sisi yang komprehensif agar tidak hanya melandasi penilaian terhadapnya pada sepenggal informasi saja.
Perjalanan karier politiknya dalam membesarkan nama partai Gerindra bukanlah waktu yang sebentar. Bahkan partai yang berdiri sejak 2008 silam itu mampu dalam tempo yang sekejap untuk menghantarkan dirinya sebagai Cawapres dalam mendampingi Megawati pada pilpres 2009 yang berhadapan dengan SBY yang berpasangan dengan Budiono kala itu. Baru setelahnya, dirinya dicalonkan partai Gerindra secara berturut-turut sebagai Capres pada Pilpres 2014 dan 2019 yang berhadapan dengan Jokowi walau dengan hasil kekalahan. Namun perolehan kursi legislatif partai ini terus menguat khususnya ditingkat Nasional dengan posisi tiga besar di bawah PDI Perjuangan. Bahkan Partai Gerindra ditetapkan sebagai runner up dalam kontestasi Pileg 2019 dengan perolehan suara 17.594.839 atau 12,57 persen suara. Dimana pada 2014, Gerindra hanya mendapatkan 14.760.371 atau 11,81 persen suara.
Pada pencalonan Ganjar Pranowo, rakyat begitu tegas menyuarakan agar Megawati selaku Ketum PDI Perjuangan bersikap legowo untuk menerima keinginannya guna merekomendasikan Ganjar pada pilpres 2024 nanti, sehingga partai ini tidak memiliki posisi tawar lainnya dalam pertarungan pilpres ke depan. Maka mengapa hal yang sama pun harus dimintakan kepada Prabowo Subianto untuk menggenapi keinginan rakyat bahwa dirinya hanya dikehendaki sebagai calon Wakil Presiden guna mendampingi Ganjar Pranowo sebagai pasangan yang diusung oleh Koalisi Besar sehingga strategi ini menjadi efisien dalam memenangkan pilpres 2024 bagi kemenangan kelompok Nasionalisme Kebangsaan. Tuntutan ini sebenarnya dinilai wajar oleh karena kubu PDI Perjuangan telah tiga kali mengikuti kehendak rakyat, sejak 2014 dan 2019 serta pada kontestasi pilpres ke depan. Pencapaian ini mengkonfirmasi bahwa diri dan partainya sangat bisa diterima oleh masyarakat.
Bukankah pengorbanan dan persembahan atas pengabdian sebuah partai politik harus selaras dengan kehendak rakyat. Bahwa, pembagian kekuasaan yang sering menjadi posisi bargaining terhadap penentuan tentang siapa yang akan berbuat apa hingga pada akhirnya mendapatkan apa-apa yang termasuk kedalam bagian distribusi kewenangan dan kekuasaan, toh nyatanya rakyat sering tutup mata oleh karena tidak mencampuri hal ini terlalu dalam. Sehingga kedudukan orang-orang yang duduk didalam struktur kabinet hingga turunannya, seperti kebijakan Jokowi yang memasukkan rival politiknya kedalam bagian pemerintahannya saat ini, selalu saja bisa diterima masyarakat walau banyak hal itu menimbulkan pertanyaan dan keanehan dikalangan publik. Hal itu bisa terlihat ketika Jokowi merangkul partai Gerindra dan PAN kedalam kabinetnya saat ini sekaligus memberikan posisi Menteri kepada lawan politiknya pada masa kampanye pilpres sebelumnya.
Gusdur memang pernah meramal tentang Prabowo Subianto yang suatu ketika akan memimpin negeri ini, termasuk Gusdur pun pernah menyatakan bahwa Prabowo sesungguhnya sosok yang ikhlas dalam berpolitik. Namun hal itu tentu perlu dibuktikan dan didorong agar hal itu menjadi benar-benar bisa terbukti kebenarannya. Ujian pada sebesar apa rasa ikhlas Prabowo terhadap kehendak rakyat agar menyatakan kesediaannya selaku calon wakil presiden pada kontestasi pilpres 2024 mendatang adalah menjadi bukti nyata, bahwa dirinya pun bisa rela berkorban demi kebaikan bangsa dan negara ini tentunya. Sebab jalan pengabdian sangat terbuka luas bagi siapa saja sekalipun tidak harus menduduki jabatan puncak untuk menjadikannya sarana guna melakukan perbaikan diberbagai bidang yang dibutuhkan negeri ini. Hal ini sekaligus mengajak kesadaran pada berbagai partai politik yang saat ini tergabung kedalam Koalisi Besar tentunya.
Dukungan rakyat saat ini tentu semakin lebih berkualitas oleh naiknya pemahaman politik kebangsaan yang saat ini mudah di akses melalui berbagai jaringan media sosial. Jika selama ini politik hanya menggunakan cara-caranya yang acap kali mengabaikan masyarakat pasca terpilihnya calon Presiden menjadi Presiden, namun saat ini pendampingan mereka menyelimuti dan mengawal pemimpin nasional itu hingga menampakkannya dalam bentuk tingkat kepuasan publik. Artinya, jika kebijakan itu selaras dengan harapan rakyat, maka sudah barang tentu tingkat kepuasan publik menjadi tinggi pula. Sehingga penerapan pola-pola strategi politik dan pendekatan dengan sistem kampanye yang usang serta tidak produktif dan sering didapati menyingkirkan partisipasi publik, tentu akan tertolak dengan sendirinya. Oleh karena masyarakat tidak lagi akan menukarkan pilihannya dengan atribut kaos yang berkualitas murahan.
Takdir memang sering menampakkannya wujudnya yang tidak sesuai dengan harapan. Namun bukan berarti seseorang malah menolaknya secara congkak hingga seolah-olah tidak ada hikmah yang baik dibelakang itu semua. Sekalipun hal itu terasa pahit. Namun apapun bentuknya, dibutuhkan kesadaran dan keikhlasan untuk menerima takdir tersebut sebagai realitas nilai dari apa yang pernah diperjuangkan seseorang. Sebab bagaimana pun, takdir seseorang akan mencari jalannya guna menemukan orang tersebut. Sehingga mustahil bagi seseorang memikul takdir yang ditetapkan untuk orang lain. Suatu takdir tidak sekedar mengungkapkan destinasi atas tujuan dan harapan seseorang, takdir bisa saja mengungkapkan jalannya pada suatu kesempatan yang ditawarkan, dimana tentu saja hal itu akan terkait dengan persoalan bagaimana sikap seseorang itu menentukan pilihannya. Jika salah memilih, tentu berakibat pada bergesernya tujuan yang diharapkan.
Maka suatu takdir akan ditentukan oleh bagaimana orang tersebut mengambil keputusannya agar sesuai dengan kehendak Tuhan yang memiliki skenario besar dalam perjalanan kehidupan seseorang pada akhirnya. Jika penulis kembali pada pengungkapan dari tujuan penulisan kali ini, maka tidak ada salahnya jika penulis menyampaikan harapannya agar Prabowo Subianto tidak menetapkan pilihannya sebagai Capres 2024 yang dipaksakan. Kecuali tetap berada pada Koalisi Besar yang saat ini menjadi harapan publik guna memenangkan kubu Nasionalisme Kebangsaan pada pilpres 2024 nantinya. Oleh karenanya, tawaran rakyat yang sering di istilahkan dengan “Vox populi, vox dei” artinya suara rakyat adalah suara Tuhan, menjadi jalan bagi dirinya untuk menentukan kecermatan dalam memilih. Sebab godaan atas pilihan tidak saja mempengaruhi dirinya, namun berbagai tawaran Cawapres 2024 lain pun saat ini telah menerpa segenap masyarakat untuk mengambil pilihan mana yang lebih baik bagi kemajuan bangsa dan negara ini.
Penulis : Andi Salim