Songket Nias Menembus Panggung Busana London Hingga New York
Songket Nias Menembus Panggung Busana London Hingga New York
Kasatnews.id, Nias- Raminalai Dakhi, putri asal Pulau Nias, berjuang membawa kain tradisional leluhurnya untuk dikenal dunia. Melalui Tuwu Nukhada, ia mengembangkan kain tenun yang terinspirasi dari sejarah, identitas dan filosofi kebudayaan Nias.
Perjalanan Raminalai menghidupkan kembali Songket Nias bukanlah perkara singkat. Ia menghabiskan sekitar dua tahun untuk menelusuri sejarah dan asal-usul kain tersebut, mulai dari museum daerah, nasional hingga museum di mancanegara. Setelah itu, ia melanjutkan proses pengembangan dan uji coba selama hampir 3 tahun sebelum memperkenalkan karyanya kepada publik.
“Saya ke sejumlah museum di Indonesia, Amerika Serikat, Belanda, dan negara lainnya,” ucapnya kepada awak media baru-baru ini, Senin (26/10/2026).
Ia berupaya menemukan jejak kain tradisional Nias yang keberadaannya nyaris punah dan terlupakan dan belum banyak diketahui oleh masyarakat, termasuk masyarakat Nias sendiri.
Dari penelusuran itu, Raminalai mengangkat kembali identitas dan motif-motif yang memiliki nilai sejarah dan menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat Nias pada masa lalu. Salah satunya adalah kain bernama Gala Mbagi yang ditelusurinya di museum Belanda, kemudian dilakukan riset.
Ada pula kain langka Rai Ni Wali-wali, yang menurut penuturannya, memiliki makna spiritual sebagai media penyampaian doa seorang istri kepada Sang Pencipta.
Bagi Raminalai, temuan tersebut bukan sekadar menambah pengetahuan tentang kain tradisional. Lebih dari itu, ada warisan leluhur yang perlu diperkenalkan kembali agar tidak hilang ditelan zaman.
“Ini budaya nenek moyang kami yang saya angkat kembali dan lestarikan. Namun, saya tidak menghindari atau mengesampingkan kemajuan teknologi dan modernitas,” kata Raminalai.
Menurutnya, melestarikan budaya bukan berarti harus terpaku pada bahan dan teknik yang digunakan pada masa lalu. Ia ingin mempertahankan identitas tradisional sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan zaman.
Dahulu, kata dia, nenek moyang masyarakat Nias memanfaatkan serat tumbuhan sebagai bahan untuk membuat kain. Kini, pilihan bahan semakin beragam, mulai dari berbagai jenis benang tekstil hingga benang metalik yang dapat digunakan untuk menghasilkan kain songket.
“Saya menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Saya melihat siapa yang menyukai kain ini, warna apa yang diminati, dan bahan baku apa yang tersedia,” ungkapnya.
Penyesuaian tersebut menjadi bagian dari proses kreatif Raminalai. Warisan budaya tetap menjadi sumber inspirasi, sementara pendekatan modern digunakan agar kain tradisional dapat diterima oleh masyarakat masa kini.
Songket Nias Ditemukan di Museum Belanda, menghidupkan kembali Songket Nias bukan tanpa tantangan. Raminalai mengaku masih menghadapi keraguan dari sebagian orang yang mempertanyakan keberadaan songket dalam kebudayaan Nias.
“Ini perjuangan. Ada yang bertanya, sejak kapan Nias punya songket? Itu menjadi tantangan bagi saya,” ucapnya.
Wanita lulusan Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara (USU) itu menjelaskan bahwa istilah songket digunakan untuk menyebut kain tenun dengan teknik penambahan benang hias, termasuk benang metalik, sehingga menghasilkan motif yang menonjol pada permukaan kain.
Oleh karena itu, Raminalai berupaya memperkenalkan Songket Nias melalui berbagai kegiatan, termasuk pameran dan peragaan busana. Menurutnya, kain tradisional tidak cukup hanya disimpan sebagai koleksi, tetapi juga perlu diperkenalkan dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman agar masyarakat mengenal cerita dan nilai budaya di baliknya.
Melalui Tuwu Nukhada, ia mengembangkan kain dengan beragam warna, bahan, dan motif yang terinspirasi dari tradisi, alam, serta simbol-simbol masyarakat Nias.
Salah satu motif yang diangkat adalah Gala Mbagi, yang terinspirasi dari perhiasan berupa kalung emas perempuan bangsawan Nias. Perhiasan tersebut melambangkan kebangsawanan, keanggunan, dan feminitas. Menurut Raminalai, salah satu kain yang berkaitan dengan motif tersebut ditemukan melalui penelusuran di museum di Belanda.
Ada pula motif Rai Ni Wali-wali yang dikembangkan dari simbol mahkota tradisional. Motif ini memiliki makna spiritual yang berkaitan dengan doa seorang istri kepada Sang Pencipta. Motif-motif tersebut dihadirkan kembali dalam karya tekstil agar nilai sejarah dan filosofinya dapat dikenal oleh generasi masa kini.
Dari Nias Menuju Panggung Dunia,
Raminalai yang berprofesi sebagai advokat sekaligus merupakan anggota Bhayangkari, terus memperkenalkan Songket Nias ke berbagai panggung fesyen dan kegiatan kebudayaan. Melalui Tuwu Nukhada, karyanya diperkenalkan dalam sejumlah ajang, termasuk INACRAFT dan Indonesia Fashion Week.
Songket Nias juga diperkenalkan melalui berbagai kegiatan di dalam dan luar negeri, termasuk di Bangkok, London, dan New York. Salah satunya melalui keikutsertaan putrinya, Clairine, yang mengenakan busana berbahan Songket Nias dalam kegiatan internasional.
Bagi Raminalai, kesempatan tersebut bukan sekadar ajang untuk memperlihatkan keindahan kain. Ia ingin masyarakat internasional mengenal Nias melalui motif, filosofi, dan kisah yang melekat pada setiap helai kain tenun tersebut.
Semangat itu sejalan dengan filosofi Tuwu Nukhada. Kata tuwu berarti mengangkat. Nama tersebut terinspirasi dari bagian rumah adat Nias yang disebut lawa-lawa. Ketika bagian tersebut diangkat, cahaya matahari masuk dan menerangi ruangan di dalam rumah.
Filosofi mengangkat dan menerangi itulah yang menjadi landasan Tuwu Nukhada. Melalui karya tekstil, Raminalai ingin mengangkat kekayaan budaya Nias agar semakin dikenal luas.
Karena, lanjut Raminalai, perjuangan menghidupkan kembali Songket Nias tidak berhenti pada peluncuran produk atau keikutsertaan dalam peragaan busana. Ia ingin warisan leluhur tetap hidup dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Bersama kedua putrinya, ia membangun Tuwu Nukhada sebagai wadah untuk mengembangkan kain tradisional Nias sekaligus memperkenalkan identitas budaya daerah tersebut kepada masyarakat luas.
Ke depan, mereka juga bercita-cita membangun yayasan untuk mendukung pendidikan anak-anak Nias, termasuk membantu menyediakan perlengkapan sekolah.
Harapannya, filosofi tuwu tidak hanya diwujudkan melalui kain yang mengangkat budaya leluhur, tetapi juga melalui upaya menerangi masa depan generasi muda masyarakat Nias.
Dari riset di museum hingga panggung fesyen internasional, perjalanan Raminalai menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali warisan budaya yang nyaris terlupakan. Melalui setiap motif dan helai benang, ia ingin memastikan bahwa budaya Nias bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan identitas yang terus tumbuh dan dikenal oleh dunia. (MRH/R)