Kapolres Langkat Dukung Sukses Bakti Kesehatan Polda Sumut, Ribuan Masyarakat
Menepis Apatis, Merawat Demokrasi, Apakah Apatis Muncul Tanpa Sebab?
Kasatnews.id | Batu Bara — Di tengah ajakan merawat demokrasi dan menolak sikap apatis, Pemerintah Kabupaten Batu Bara menggelar kegiatan bertema “Menepis Apatis, Merawat Demokrasi” yang menghadirkan anggota DPR RI , perwakilan serta Bupati Batu Bara. (21/6/2016)
Secara normatif, tema tersebut membawa pesan penting bahwa demokrasi membutuhkan keterlibatan masyarakat dan tidak dapat tumbuh di tengah sikap acuh terhadap proses pemerintahan maupun pembangunan daerah. Namun, di balik narasi menepis apatis, muncul pertanyaan yang juga perlu dijawab secara terbuka, apakah apatisme publik hadir tanpa sebab?
Di tengah masyarakat Batu Bara, berbagai persepsi berkembang mengenai hubungan antara warga dan pemerintah daerah. Disinformasi memang menjadi salah satu tantangan yang sering disebut memperlebar jarak komunikasi. Akan tetapi, sebagian kalangan menilai persoalan tidak selalu berhenti pada informasi yang keliru, melainkan juga pada bagaimana ruang komunikasi, keterbukaan, dan respons pemerintah terhadap aspirasi publik dijalankan.
Apatisme dalam demokrasi sering kali bukan sekadar ketidakpedulian. Ia dapat muncul ketika masyarakat merasa suaranya tidak lagi berpengaruh, aspirasi tidak tersampaikan, atau hubungan antara pemerintah dan warga berjalan secara formal namun tidak substantif.
Karena itu, tema “Menepis Apatis, Merawat Demokrasi” dinilai seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ajakan kepada masyarakat untuk kembali percaya dan berpartisipasi. Lebih dari itu, tema tersebut juga menjadi refleksi bagi pemerintah untuk mengevaluasi sejauh mana ruang partisipasi benar-benar dibuka dan dijaga.
Jika pemerintah menginginkan demokrasi yang hakiki, maka ukuran keberhasilannya bukan hanya jumlah kegiatan seremonial atau banyaknya forum yang digelar. Demokrasi akan dinilai dari apakah masyarakat merasa didengar, dilibatkan, dan memiliki kedekatan sosial dengan pemerintah daerah.
Di tengah berbagai asumsi yang berkembang, menjaga demokrasi berarti merawat hubungan dua arah. Sebab ketika jarak antara masyarakat dan pemerintah semakin melebar, yang muncul bukan sekadar apatis — tetapi hilangnya rasa memiliki terhadap arah pembangunan itu sendiri.
Kegiatan di Batu Bara ini pun menjadi pengingat bahwa menepis apatis tidak cukup dengan seruan, melainkan membutuhkan kepercayaan yang dibangun melalui komunikasi, keterbukaan, dan kehadiran nyata pemerintah di tengah masyarakat. (Tim/Kasat)